Headlines News :

bukan anak raja, anak ulama, dan bukan anak pejabat.

bukan anak raja, anak ulama, dan bukan anak pejabat.
Home » » Perjalanan ke puncak merapi Sumbar, (15-17 agustus 2015).

Perjalanan ke puncak merapi Sumbar, (15-17 agustus 2015).

Written By Afriadi on Thursday, December 17, 2015 | 1:56 AM


Naik naik kepuncak gunung…
Tinggi tinggi sekali….
Ya..penggalan bait lagu anak-anak yang diciptakan Ibu Soed ini, bak mimpi di alam nyata saya. Tak terbayang oleh saya penggalan bait lagu anak-anak yang sering dinyanyikan pada massa itu menjadi kenyataan. Diumur yang beranjak 22 tahun, saya  bisa menginjakkan kaki di puncak gunung merapi yang terletak di Sumbar (sumatera barat). Dikeluarga saya tidak ada yang memiliki beground pendaki gunung (petualang), itu artinya saya adalah keluarga pertama di keluarga yang pernah mendaki gunung, hahhah.. Gunung yang saya daki ini sering digunakan untuk pendakian bagi pencinta alam. Secara geografis gunung ini terletak antara Kabupaten Tanah Datar, Kabupaten Agam dan Kotamadya Padang Panjang. Disebalah terdapat gunung Singgalang dan  Gunung Tandikek, dengan ketinggian 2.891 Mdpl.

Pertualangan ini sebenarnya direncanakan teman saya Zuhdi dan Angga, mereka sudah termasuk senior dalam pendakian merapi, sudah berulang kali mereka naik turun gunung ini. sebenarnya sudah lama saya ingin ikut mendaki gunung bersama mereka, namun karena padatnya jam perkuliahan pada semester itu niat saya untuk ikut saya urungkan. 17 agustus 2015, atau tepatnya disemester 8 akhirnya saya bisa menaklukkan gunung itu. Senang sekali rasanya..hahhaha
(foto kiri), Angga, Afriadi, Zuhdi, Kiki.
Okee…singkat cerita sekitar jam 4 sore, kami bertiga sudah ngumpul di kos, (Saya, Kiki dan Angga) zuhdi pada saat itu belum datang kabarnya ia harus menyelesaikan pekerjaan kantornya. Zuhdi kuliah sambil kerja, jadi kami harus menunggu sebentar hingga ia pulang. Sambil menunggu kami sempatkan untuk mengecek perlengkapan, seyum-senyum kecil keluar dari wajah saya mengisyaratkan senang kalau akan berangkat mendaki, dibenak saya gunung merapi sudah didepan mata, awan yang begitu tinggi terbayang sudah dibawah, kata-kata yang mau dituliskan di kertas juga sudah terbayang, pokoknya seru sekali rasanya khayalku. Lagi asik berkhayal gerimispun turun  otomatis rasa pesimis saya datang, tidak terbayang oleh saya seperti apa jadinya bila pertualangan yang saya idamkan selama ini ditunda. “ kita tetap berangkat walaupun gerimis,” hibur Angga kepada saya. Kata-kata Angga tadi sedikit menghibur saya, dalam hati saya selalu berdo’a agar hujan reda.
Alhamdulillah hujanpun reda, zuhdi pun sudah sampai di kost saya. Dengan mengucapkan Bismillah  kami susuri jalan menuju mimpi yang tak tertahankan. Hahahaha riang hati rasanya ketika sepeda motor sudah meninggalkan kost. Kami berangkat sekitar jam setengah tujuh sore dan sampai di payakumbuh jam 12 malam, cukup lama sih menurut pengendara yang gila membawa sepeda motor tapi itu tidak masalah yang terpenting adalah selamat sampai tujuan. Di Payakumbuh kami berhenti makan sebentar supaya cacing tidak mengamuk diperjalanan. Hahah..dan perjalananpun kami lanjutkan hingga akhirnya kami sampai di pasar tanah datar. Yaph kami sengaja berhenti di pasar ini untuk beristirahat sambil menunggu pagi. Tikarpun kami bentangkan dan kami pun tidur, tapi saya tidak begitu nyenyak tidurnya karena terbayang akan pendakian keesokan harinya, hahahhaha. Tapi sebenarnya bukan karena itu juga tapi karena suhu yang sangat dingin bagi kulit orang Riau.
Pagi pun tiba, sekitar pukul 7 pagi kami langsung cus ke lokasi, Dari tempat parkiran, kami berjalan kepesanggrahan. “Waduh baru sampai sini aja udah goyang ni lutut”, canda saya dan kiki sambil tertawa. Angga menjelaskan bahwa perjalan kami belum ada apa-apanya, alias masih jauh. Rasa pesimispun datang lagi di pikiran aku dan kiki, maklum kami berdua adalah perdana dalam pendakian ini. namun dengan tekat yang kuat kami berusaha sekuat tenaga untuk dapat menginjakkan kaki dipuncak gunung yang sudah lama kami impikan. Langkah demi langkah kami jalani, pepohonan menjulang, suara binatang hutan mengiringi pendakian kami.
Oya,..Ada yang unik  dalam menyapa sesama pendaki selama pendakian ini, sapaan untuk para pendaki adalah pak untuk laki-laki dan ibuk untuk perempuan walaupun pendaki itu umurnya dibawah kita. Katanya sih untuk kesamaan derajat diantara para pendaki. Dalam mempraktekkannya saya sedikit canggung, bahkan selalu ingin tertawa jika menyapa. Lucu gitu manggil anak SD dengan sapaan Pak, Buk. Hehhehehe…mungkin sapaan seperti itu memang selalu di gunakan untuk mendaki gunung di seluruh Indonesia kali ya, tapi nggak tau sih maklum masih perdana mendaki. hehehehe
Di pertengahan jalan cuaca sangat tidak bersahabat, pendakian perdana saya harus dihentikan sebentar karena hujan, akhirnya dibawah akar-akar pohon kami jadikan tempat berteduh. Suhu di tempat ini sangat dingin bagi kulit orang Riau, apalagi hujan turun, rasa dinginpun makin menjadi-jadi. Saya dan zuhdi pun memutuskan untuk berteduh dibawah akar-akar pohon yang tak begitu luas. Kira-kira satu meter persegi. Bersama empat orang para pendaki lainnya.lumayan sempit sih tapi sedikit menghangatkan.
Hujan pun reda kami pun melanjutkan perjalanan, perlahan-lahan badan pun terasa lemas begitu juga yang dirasakan zuhdi. Lapar pun mendera, yaa ternyata kami sudah salah langkah, kami menyepelekan sarapan pagi. Alhasil badan pun lemas, kami putuskan untuk makan mie instan. ini adalah pelajaran bagi kita yang selalu menyepelekan sarapan pagi, sebenarnya sarapan tidak merugikan kita tapi menyehatkan kita. Apalagi pada saat melakukan pendakian seperti saya, sarapan adalah bahan bakar yang sangat diperlukan.  
Perjalanan kami lanjutkan, dengan sisa tenaga kami susuri medan terjal ini, rasa lemas diobati zuhdi dan angga dengan mengatakan tinggal 30 menit lagi kami akan sampai  di puncak. Tapi 30 menit berselang belum juga sampai, merekapun menyemangati kami lagi dengan 30 menit lagi akan sampai, beberapa kali mereka memotifasi kami. “ huhh..huhh..huuhhh suara nafas kami, lelah rasanya.
               Okeeehhh…sorakan pendaki sangat jelas ditelinga, sewaktu-waktu mereka bersorak. Katanya sih mereka bersorak karena pemandangan indah yang tertutupi kabut tebal muncul. Ahhh…rasanya tak sabar untuk sampai di puncak. tak sabar melihat keindahan itu. Hahahah.. Dan akhirnya kami sampai dicadas, cadas posisinya sudah tidak jauh dari puncak. Bebatuan gunung mendominasi disini, pepohonan sudah tidak ada.
Memang suasana di cadas saat itu diselimuti kabut, gunung singgalangpun tak tampak. Hanya sesekali menampakan. Namun sedikit menarik karena seperti yang dikatakan tadi bila pemandangan yang tertutupi kabut terlihat, Sorak gembira dan tepuk tanganpun riuh diantara pendaki, kami bersama-sama menunggu moment indah itu.

Subhanallah indahnya negeri ini, bahagia rasanya saya bisa menikmati alam yang indah dari ketinggian ini. walaupun kami belum sampai puncak, rasa takjub dan senang sudah menyelimuti hati. Lelah yang dirasakan tadi seketika hilang, pemandangan indah seperti ini bak obat lelah mendaki tadi. Kami abadikan moment ini dengan berselfie ria…haaaahhhh rasa mau berteriak dengan semua ini, senang rasanya.

Ada yang bilang, dakilah gunung-gunung atau datangilah pantai-pantai mungkin kau akan lebih mengerti hidup. Ya bisa jadi, dengan berada ditempat tinggi ini terlihatlah betapa kecilnya kita. Bukan apa-apa, jadi tak ada yang patut di sombongkan sedikitpun. Jika Tuhan berkehendak, ketika kami berada di puncak bisa saja gunung itu meletus dan jadilah kami bagai anai-anai yang berterbangan. Mendaki juga mengajarkan betapa tidak mudahnya mencapai tujuan atau mewujudkan harapan kita. Butuh usaha dan perjuangan, akan banyak hambatan untuk mencapainya baik dari diri sendiri maupun lingkungan. Namun ketika sudah sampai di puncak, kita akan merasakan betapa indah hasilnya memang hasil tak akan pernah mengkhianati usaha. Subhanallah..
Malam harinya juga tak kalah indahnya, Karena malam itu bertepatan dengan ulang tahun tanah air tercinta, Indonesia. pada detik-detik pergantian hari atau pada malam tanggal 16 agustus. Para pendaki merayakannya dengan berpesta kembang api. Sorak gembira diantara pendaki sangat riuh. Malam itu  selain bintang, kembang api turut menghiasi langit. Yaahh malam itu sangat istimewa bagi saya, sampai saya rela berlama-lama duduk diluar meski dingin dirasa dan saya sempat merasakan kaki saya keram, beruntung ada teman diantara pendaki membantu saya. Kiki, Angga dan zuhdi lebih memilih istirahat didalam tenda. Waahhh..takjub saya dengan suasana seperti ini, diatas di hiasi kembang api, dibawah dihiasi lampu kota padang panjang dan bukittinggi. Subhanallah…tak henti saya berucap.
Suatu saat aku ingin menikmati keindahan seperti ini lagi, mudah-mudahan Allah mengabulkan itu semua. Amiiinnn.

Share this article :

1 comment:

  1. ArenaDomino Partner Terbaik Untuk Permainan Kartu Anda!
    Halo Bos! Selamat Datang di ( arenakartu.org )
    Arenadomino Situs Judi online terpercaya | Dominoqq | Poker online
    Daftar Arenadomino, Link Alternatif Arenadomino Agen Poker dan Domino Judi Online Terpercaya Di Asia
    Daftar Dan Mainkan Sekarang Juga 1 ID Untuk Semua Game
    ArenaDomino Merupakan Salah Satu Situs Terbesar Yang Menyediakan 9 Permainan Judi Online Seperti Domino Online Poker Indonesia,AduQQ & Masih Banyak Lain nya,Disini Anda Akan Nyaman Bermain :)

    Game Terbaru : Perang Baccarat !!!

    Promo :
    - Bonus Rollingan 0,5%, Setiap Senin
    - Bonus Referral 20% (10%+10%), Seumur Hidup


    Wa :+855964967353
    Line : arena_01
    WeChat : arenadomino
    Yahoo! : arenadomino

    Situs Login : arenakartu.org

    Kini Hadir Deposit via Pulsa Telkomsel ( Online 24 Jam )
    Min. DEPO & WD Rp 20.000,-

    INFO PENTING !!!
    Untuk Kenyamanan Deposit, SANGAT DISARANKAN Untuk Melihat Kembali Rekening Kami Yang Aktif Sebelum Melakukan DEPOSIT di Menu SETOR DANA.

    ReplyDelete

kalender

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. SHARE AF - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template